Aku baru selesai baca sebuah artikel yang menurutku menarik banget, judulnya Negara yang Berpikir Miskin. Di artikel ini, penulis memakai "porsi nugget yang boleh dimakan di suatu keluarga" sebagai sebuah perumpamaan sederhana yang ngebantu kita buat lebih memahami situasi yang coba dijelaskan olehnya.
Kalian pasti pernah melihat, mendengar, atau mungkin merasakan sendiri peristiwa "bagi-bagi nugget" itu, dan porsi nugget yang boleh dimakan di setiap rumah akan berbeda sesuai dengan penghasilannya masing-masing, semakin rendah penghasilannya maka semakin sedikit jumlah nugget yang bisa dimakan agar semua orang bisa mendapatkan nugget tersebut.Di sebuah rumah yang mungkin memang ekonominya terbatas, hal tersebut mungkin hal yang baik dan ya memang satu-satunya hal yang bisa dilakukan dengan keterbatasan yang mereka miliki.
Tapi, apa jadinya kalau mindset seperti itu masih dilestarikan oleh rumah tangga yang sebenarnya gak sama sekali merasa kesulitan untuk membeli sebuah nugget? Bagaimana kalau sebetulnya, di rumah itu, nugget berapa puluh biji pun sebenarnya bisa dimakan oleh seluruh anggota keluarga tanpa harus ada rasa gak tega, tapi karena mindset "miskin" ini udah terlanjur tertanam dan gak berusaha dihapus, jadinya ya tetap aja semua orang di rumah itu harus mengirit dan gak bisa menikmati nugget yang mereka miliki dengan sepuasnya. Itulah yang terjadi di Indonesia, kita ini sebenarnya bukan negara yang miskin, dari hasil alam maupun anggaran yang kita dapatkan sebenarnya cukup besar, tapi entah kenapa kita selalu cenderung mengirit dalam segala hal, salah satunya yang dibahas di sini adalah dalam konteks lapangan kerja.
Alih-alih menciptakan lapangan kerja baru dan "memanfaatkan uang yang ada untuk membeli lebih banyak nugget", negara ini malah mau menutup banyak prodi yang dirasa kurang relevan dengan lapangan pekerjaan yang ada. Alih-alih mengusahakan agar semua anak di rumah mendapatkan jumlah nugget (kesempatan bekerja) yang sama, rumah (negara) ini malah memilih untuk berefisiensi (yang sebenarnya gak efisien-efisien banget juga) dan membiarkan anak-anaknya kelaparan. Berkaitan dengan hal ini, aku akan mengutip kata-kata dari sang penulis yang sangat menyentuh banget menurutku:
"Ada sesuatu yang menyakitkan dari logika menghitung nugget - yaitu bahwa kalau kamu sudah lama menghitung, kamu lupa bahwa sebetulnya nugget di freezer cukup untuk semua orang. Kamu lupa bertanya kenapa harus dihitung. Kamu lupa bahwa di rumah lain, anak-anak sebayamu makan sebanyak yang mereka mau. Logika kelangkaan, kalau dipraktikkan terlalu lama, menjadi natural - dan saat itu terjadi, ia berhenti jadi adaptasi dan jadi pengkondisian."
Pada intinya aku sangat suka artikel ini, membaca artikel ini sebelum tidur beneran bikin mikir dan bikin aku jadi "iya juga ya." It really is such an insightful article to read especially on your free time. Selain kutipan yang aku sertakan tadi, akan kusertakan juga beberapa kutipan menarik lainnya pada foto-foto di bawah.