“But the horror... The horror was for love. The things we do for love like this are ugly, mad, full of sweat and regret. This love burns you and maims you and twists you inside out. It is a monstrous love and it makes monsters of us all.”
Crimson Peak menceritakan tentang kakak beradik, Thomas dan Lucille Sharpe, yang berusaha memanipulasi kehidupan seorang wanita kaya bernama Edith Cushing demi mendapatkan kekayaannya. Namun, di balik hubungan dan niat mereka yang terlihat sederhana, keluarga Sharpe ternyata menyimpan misteri kelam yang perlahan mulai terungkap setelah Edith tinggal bersama mereka di Allerdale Hall.
Ekspektasiku sebelum menonton adalah film ini akan menjadi semacam dark romance yang dibalut dengan horror. Tapi setelah selesai menonton keseluruhannya, hal yang paling membuatku amazed justru adalah setting tempat dan visualnya yang luar biasa indah. Penggunaan warna merah yang begitu dominan, terutama ketika berpadu dengan salju putih, membuat film ini terasa sangat gothic, surreal, sekaligus seperti berada di dalam sebuah dark fairytale.
Menurutku, film ini juga punya pace yang pas. Ceritanya nggak terasa terlalu lambat, tapi juga nggak terburu-buru dalam mengungkap misterinya, sehingga setiap bagian masih bisa diikuti dengan baik. Akting para aktor dan aktrisnya juga berhasil membuat karakter-karakternya terasa hidup, terutama bagaimana mereka membawa sisi emosional dan kegilaan dari hubungan keluarga Sharpe.
Overall, aku benar-benar menikmati Crimson Peak. Film ini mungkin bukan horror yang akan membuatku ketakutan, tetapi atmosfer gothic, visual yang stunning, misteri keluarganya, dan konsep tentang bagaimana cinta dapat berubah menjadi sesuatu yang mengerikan membuat film ini jauh lebih menarik dari yang awalnya aku ekspektasikan.
Definitely one of the gothic films I’d rewatch in the future.