Aku menyusuri Malioboro dengan hentakan kaki pelan—menikmati indahnya malam tengah daerah Jogja. Playlist Spotify untuk jalan malamku memang kurancang berisi tumpukan lagu-lagu galau yang sesekali menyayat hati.
Di pusat jalan, suara riuh orang kadang terdengar meski aku telah mengatur volume earphone-ku paling tinggi. Jalanan ramai jantung daerah istimewa ini padat kendaraan satu arah, begitu syahdu, bukan, jika dibayangkan?
Tetapi yang terjadi tak sedamai itu, pemirsa. Akibat Spotify-ku yang tak premium, terputar lagu A Sorrowful Reunion oleh Reality Club yang awalnya tak ikut playlist—alias shuffle. Aku langsung meraih bangku kosong di depan toko Bakpia Djuara Satoe, dan pandanganku tepat ke satu titik.
Aku mengernyitkan dahi, menyipitkan mata, kembali memfokuskan ke titik yang jelas membuat seluruh tubuhku tak terasa lagi. Jantungku tak perlu ditanya, telah berhenti sejenak ketika benar-benar dapat kupastikan bahwa di hadapanku—bangku di seberangku—adalah sosok manusia yang telah lama menghilang dari hidupku. Atau lebih tepatnya; seseorang yang sengaja ’dihilangkan’ karena satu dan lain hal. Mungkin ini yang terbaik? Entah.
Ia duduk tegap sama seperti ketika aku mengenalnya dahulu, bahkan hingga raut wajahnya masih sangat kuhafal. Namun, bagaimana semesta menyusun pertemuan tak terduga ini dengan serapi mungkin? Kini, kami saling berpandang—sama-sama membeku. Suara bising sekitar tak lagi terdengar di telingaku, hanya lagu milik band asal Indonesia yang masih terputar.
”𝘛𝘩𝘦 𝘴𝘰𝘳𝘳𝘰𝘸𝘧𝘶𝘭 𝘳𝘦𝘶𝘯𝘪𝘰𝘯
𝘞𝘢𝘴 𝘪𝘯𝘦𝘷𝘪𝘵𝘢𝘣𝘭𝘦”
Saat bagian itu beralun, ia memanggil namaku. Lembut dan pelan—persis seperti tempo lalu ia menyebutnya. Tangisan ini tak lagi terbendung, air mata menutupi pandanganku sepenuhnya. Jatuh pula airnya, dan yang kulihat di depanku—tidak ada apa-apa.
Apakah aku terlalu rindu hingga aku berkhayal bahwa kamu datang kepadaku lagi?