전체 공개 ・ 07.07

2026.07.07 (Tue)
Essai ini membedah cerita jatuhnya Icarus dengan sudut pandang yang jauh berbeda. Kalau kebanyakan tragedi Icarus ini menyebutkan bahwa dia jatuh karena kecerobohannya, essai ini justru seolah menyebutkan kalau bisa jadi ada kemungkinan lain. Essai ini mengupas sudut pandang yang menggunakan jatuhnya Icarus sebagai perumpamaan dari passion/cinta yang terlampau besar. Esaai ini juga menguraikan siklus dari fase cinta tersebut menurut penulis. Ia menyebutkan bahwa tanpa kita sadari, passion/cinta yang biasanya disebut indah itu juga bisa menelan kita tanpa kita sadari. Lalu sampai titik parahnya, passion/cinta itu juga yang akan membuat kita hancur, bahkan sampai ia bisa melahap alasan. Di sini menurutku penulis mau menyatakan kalau passion/cinta itu ketika kita udah terlanjur masuk terlalu dalam bisa membahayakan. Marabahaya yang bahkan kita nggak sadari sama sekali dan sampai melalaikan alasan/warning.
Kutipan penting: "maybe icarus loved the sun because it taught him what it meant to feel alive. he wanted that last taste of the sun, the feeling of it pressed against his skin, even as it tore him apart. maybe that’s the part we don’t want to admit—maybe he loved the fall."