
앱에서 친구를 팔로우하고 소식을 받아보세요!
QR 코드를 스캔해보세요
전체 공개 ・ 01.18

2025.11.27 (Thu)
Aku bisa dibilang cukup telat menonton film ini karena baru sempat saat film ini sisa satu jam tayang saja di bioskop kotaku. Satu hal yang pengin aku bilang, gak heran film ini menang di banyak nominasi saat BIFF. Sejak menit pertama film ini menyuguhkan tampilan yang menarik, dengan penggambaran kawasan Pantura (menurut tebakanku) yang aku sendiri tau dan dengar melalui kata orang tua. Tempat-tempat peristirahatan para sopir truk yang tidak jarang dikaitkan dengan lokasi "pijat." Dari sini, kita diperkenalkan kepada Sartika, seorang wanita yang (entah rela atau tidak) pergi dari kampung untuk mencari pekerjaan apa saja yang bisa dia kerjakan dan berakhir bertemu dengan Ibu. Konflik pertama juga dimulai dari kegundahan Sartika dalam pekerjaan yang dia pilih. Jujur di sini aku sedih. Banyak sekali orang yang melakukan suatu pekerjaan bukan karena keinginannya, melainkan karena terpaksa demi anak dan keluarga. Sampai akhirnya dia bertemu Hadi. Jujur, di sini aku udah curiga macam-macam tentang konflik selanjutnya karena pertemuan Sartika dengan Hadi terlalu mulus, membuat aku mau gak mau menjadi trust issue. Aku kira Hadi akan mati atau kecelakaan dan lain-lain, ternyata dugaanku masih terlalu positive thinking untuk laki-laki macam Hadi. Di titik ini, aku merasa tertipu karena lupa bagaimana peran langganan Fedi Nuril. :) Menariknya, yang aku tangkap dari film ini secara tidak langsung mengemas bagaimana perjuangan seorang ibu, seorang perempuan, seorang manusia dalam menjalankan kehidupan yang keras. Aku sendiri dibuat merasa hampa, sedih, ingin menangis (yang mana aku memang menangis) dan kesal sekaligus usai menonton film ini. Selain itu, hats off to Reza Rahardian and Felix K. Nesi sebagai sutradara sekaligus penulis karena berhasil menciptakan sebuah karya yang sangat, sangat, sangat bagus. The movie, all of the crews, actors and actresses deserve a 10 out of 10.