
앱에서 친구를 팔로우하고 소식을 받아보세요!
QR 코드를 스캔해보세요
전체 공개 ・ 2025.07.03

2025.07.02 (Wed)
Mari menghela nafas dulu sebelum membicarakan film ini. Martha (anak pertama Orpha ) akhirnya pulang dari Malaysia karena harus menghadiri pemakaman ayahnya di Rote. Martha di cap gila beberapa hari setelah kematian ayahnya. Pandangannya kosong, dan sering melamun. Tak di ceritakan tapi jelas sekali di film menunjukan bahwa ketika Martha metantau, Martha memiliki trauma (entah itu pelecehan atau pemerkosaan) yang pasti keluarganya tidak tahu sama sekali. Pelecehan, pemerkosaan, pun terjadi bahkan setelah Martha pulang ke Rote. Satu kata untuk film ini. Sakit! Baru di menit awal sudah di suguhi konflik. Cerita yang cenderung naik tanpa ada conclusion menunjukan bahwa, ruang untuk perempuan, tidak ada. Tidak ada akhir untuk korban pelecehan seksual. Marah banget waktu waktu menuju ending asliii! Jujur aja waktu nonton beberapa bagian aku cepetin karena nggak tega. Film tersadis, tapi aku yakin di dunia nyata akan sama sadisnya atau bahkan lebih. Ah iya! Masih cukup bingung dengan endingnya Damar. Untuk beberapa hal teknis, seperti moving kamera, oh astaga banyak sekali moving kamera yang kurasa tujuannya membuat kita bingung, penasaran, dan resah. Cenderung tidak fokus, jadi nggak ngikutin satu tokoh tapi beberapa tokoh yang kadang bukan tokoh penting. No soundtrack, jadi bikin film ini lebih dalam. Effect menegangkan beberapa bikin dapet feelnya tapi nggak berlebihan kaya film horor. Dan collor grading yang cenderung dark, kaya film horor ini menunjukan kalau masalah pelecehan ini memang horor. Banyak hal yang bisa di diskusikan dari film ini tapi ku rasa harus berhenti disini karena lemes banget abis nonton 😭