pepoh's
점수 분석
1
0.7≤
2
~1.2
1
~1.7
0
~2.2
2
~2.7
0
~3.2
2
~3.7
2
~4.2
1
~4.7
1
≤4.8
4.8~5
4.3~4.7
3.8~4.2
3.3~3.7
2.3~2.7
1.3~1.7
0.8~1.2
0~0.7
평가 없음
inilah sinema………. KELUAR DARI FASE RETIRED CINEPHILE KARENA NONTON FILM SPEKTAKULER INI………. damn i’m not even Catholic and i feel like this movie SHAPED ME…….. aku mengamini BANYAK PESAN DARI FILM INI……. bagus banget yaampun the tea is so enjoyable the conflict is easy to watch…….. the damn scoring is unbelievable for a political thriller…….. THE CINEMATOGRAPHY is cinematography-ing……. no words can explain how much i LOVE this movie…… sekarang udah bisa menikmati seluruh meme Conclave yang beredar di internet i’m no longer a clueless lost human being 😇
1
a (quite) relatable movie to what’s haunting this country right now… masuk bioskop tanpa tau apa pun soal film ini—cuma berbekal ini film masuk 3 nominasi Academy Awards dan dibawa sama KlikFilm. awal nonton mikirnya ini film tentang drama keluarga, maybe with a mixture of thriller karena di bagian awal aja udah dikasih keterangan waktu kalau setting waktunya adalah saat masa kediktatoran militer Brazil. dari awal nonton udah antisipasi kalau akan mirip The Seed of Sacred Fig, tapi ternyata… emang rada mirip sih, tapi beda juga? kayak the root of the problems is quite the same, tapi the triggers are different. penokohan antara protagonis dan antagonisnya juga beda. itu yang bikin approach ke konflik-resolusinya dan cara “mengarahkan” keberpihakan penontonnya beda banget. makin kaget pas at the end of the movie, dikasih tau kalau ternyata ini diambil dari kisah nyata. dengan nama tokoh dan detail YANG SAMA PERSIS. ditunjukin juga foto-foto asli dari keluarga terkait. w beneran ngerasa… maknyes. perasaannya sama kayak habis nonton Eksil. bener-bener film yang indah, menguatkan sekaligus menyayat hati pada waktu yang bersamaan. walaupun beda lokasi, tapi film ini ngasih sedikit-banyak gambaran tentang kejahatan serupa yang pernah terjadi di sini, dari sudut pandang penyintas. love it, love love love so much. semoga semua penyintas mendapat keadilan, dan semoga gak ada rakyat dari negara mana pun yang perlu mengalami ini lagi. ada quotes dari tokoh utamanya, yang w gak terlalu inget kata perkata, tapi inti pesannya adalah, walopun sekarang demokrasi udah maju, tapi penjahat HAM pada masa lalu tetep harus dihukum. kalau enggak (dihukum), mereka akan selalu merasa bisa melakukan apa pun tanpa harus takut kena hukuman. relatable much, huh?
0
akhirnya menonton salah satu film horor yang digadang-gadang SEREM BGT. i actually love the first half of the movie. seremnya beneran kerasa tanpa harus pake jedar-jeder hantu dan penampakan, purely atmospheric aja. tapi begitu masuk paruh kedua, pas udah mulai berkeliaran hantu, hadeeee. i don’t really get the purpose of these ghosts juga sih. apakah mereka dibangkitkan oleh si Jane Doe, apa gimana? terus w juga masih ga terlalu nangkep lore-nya, kayak, jadi Jane Doe ini emang cuma mau bales dendam aja for the rest of her life (or her death?) atau sebenernya bisa dimusnahin juga? terus jadi conflicted juga sih, apakah si Jane Doe ini against autopsy atau ya emang dia pada dasarnya carries a huge rage aja? despite kebingungan-kebingungan itu, w suka sih sama tokoh-tokohnya, terutama dua tokoh utamanya. RASIONAL BANGET dan itu buat decision making-nya lebih bikin empati. film horor Indo belajar deh kalau tokoh di film horor tuh GAK PERLU BEBAL GAK JELAS apalagi kalau udah liat hal-hal yang di luar nalar. rada konfyus aja dikit tiba-tiba bapaknya cerita tentang almh. ibunya? dan w gak nangkep inti ceritanya apa 😭 DAN GAK SUKA YA TOKOH GAK BERSALAH DIBUAT MATI KAYAK GITU 😭 walaupun sebenernya make sense juga kalau ngeliat alur utama di film ini semata-mata untuk ngegambarin apa sih yang sebenernya terjadi sama kasus di awal film. tapi tetep aja 😭 w sangat empati sama kedua tokoh utamanya i can’t watch them dying 😭 the movie would be much greater kalau emang fokus ceritanya gak melibatkan hantu-hantu yang kayak gak ada motifnya buat ngeburu kedua tokoh utama. fokus ngulik soal ritual dan apa yang sebenernya terjadi ke Jane Doe, dan bener-bener manfaatin atmosfer mencekam lagi badai + tekanan psikologis ngadepin mayat yang kondisinya super duper weird. nevertheless, still a great movie. one of the best horror in terms of building the horror atmosphere.
0
technical wise *chef’s kiss* eye pleasing the wholeeeee movie. director horor Indonesia perlu deh nonton ini BIAR SADAR WALAUPUN SETTING-NYA GELAP, SCENE TUH BISA LHO TETEP KELIATAN JELAS *groans in frustration* i actually hope i like it more tapi kayak… beberapa hal ngeganjel… i hope i could give it at least 4.5 out of 5… MAYBE i would give that score if i have rewatched it and figured out those things… nevertheless it’s still a GREAT movie. would be much better and more satisfying if it’s watched in theater. tapi jangan yang layarnya KELEBARAN baca subtitlenya PUSING jadi pengen nonton Nosferatu versi asli karena i honestly couldn’t help but to remember that one scene from spongebob whenever the vampire came out 😭jadi gak terlalu serem karena keingetan scene spongebob terus bjir 😭 i’m sorry orlok you’re still terrifying tho 😭
2
0
the opening scene… damn… i wish i could erase my memory so that i could rewatch the opening scene to experience the same exact feeling!!! i kinda love the character development as well for sam and tara (but honestly i hate tara’s personality in the first 30 minutes 😭) but the terror is quite repetitive so some of it came out boring :/ i feel like it’s quite monotonous as well, the way they tried to make a grand plot for a twist… like… not everything needs plot twist, y’know? and how the fuck those people are STABBED THROWN KICKED PUNCHED BLEEDING THE HELL OUT OF THEIR SKULLS AND YET STILL ALIVE? dang. 😭
0
technically… it’s quite the same dengan buku yang satunya (yang bahas film horor internasional), tapi kayak… idk i just don’t really like it? it feels like i’m watching those movie reviews that only unfold the surfaces. iya emang dari awal di-state kalau buku ini cuma akan membahas secara teknis dan historis tapi juga kayak, apa? there’s not really a lot of technical explanation of the movies… diksi dan pemaparannya juga cukup repetitif imo. such a waste of potential.
0
ALLAAAAAAAAAAAH BAHASA JAWA MACAM APA INI 😭😫🤯 seumur-umur nonton film horor Indonesia, ini salah satu yang bahasa Jawa-nya paling ngaco. eh gua tau ya biaya produksi lo gede, MASA GAK BISA HIRE GURU ATAU PELATIH BAHASA JAWA. logat off itu one thing lah, w juga gak lancar-lancar amat pake logat lokal. TAPI KAYAK… lo kalo mau campur bahasa Indo-Jawa GAPAPA ASAL DIGARAP YANG BENER ini cuma pake kowa kowe kowa kowe tok sing digantino. MANGKELNO TENAN ARGH. mana muka tokohnya BULE TOTAL buset yang bener aje 😭😭😭 yang bagus cuma akting si Sumala/Kumala, hubungan Kumala sama si Mbok (makasih Kumala lo udah “ngusir” si Mbok biar gak jadi korban lo, APPRECIATE THAT VERY MUCH!), dan beberapa adegan gore (tapi gak semuanya juga). dahlach bete wak nonton ini.
0
rasanya kayak liat raw idea of a social commentary movie tapi idenya gak dieksekusi samsek bener-bener cuma ditempel doang. plot bagian akhirnya juga bener-bener ujug-ujug tanpa tedeng aling-aling anjir ANEH BGT the decision and acts made tanpa mempertimbangkan penokohan tiap karakter jadi kayak gak masuk akal dah. pengen w kasih saran perbaikan buat plotnya tapi i’m not getting paid for that at all jadi gak usahlah. liat Tyo jadi ustad tuh rasanya rada aneh ya karena biasanya liat blio jadi villain atau tokoh yang skeptis 🤣😭 btw kasian tokoh yang diperanin Zara. udah baik gak pernah ngebully selalu membela penyintas tapi tetep digangguin setan 😭 bahasa Jawanya lumayan tapi cuma yang diucapin sama para pembully aja, yang lain kagak ada yg ngomong bahasa Jawa samsek 🤣😭 btw ya jujur aja dah w pas baca judulnya w kira ini film tentang MALAIKAT MUNKAR makanya w kaget kenapa gak sepaket sama Atid eh taunya 🤣😭 bukan munkar yang itu 😭 dahlach.
1
eh sumpah w baru merasakan kejanggalan itu pas udah setengah film, kayak… kok banyak adegan yang loncat-loncat jumpy gitu… bukan jumpy yang karena ceritanya gak jelas dan gak runut, tapi karena emang ada bagian-bagian yang dipotong-potong 😭terus pas w cek ke google, buset ternyata versi aslinya durasinya itu 83 menit, tapi di versi remastered-nya cuma 67 menit. MAKIN KE BELAKANG MAKIN KERASA BANYAK POTONG-POTONGANNYA dan jelas banget ini mah karena mau disensor adegan-adegan sensualnya (kayaknya ada adegan gore yang dipotong juga deh). rewatching for the funsies and dumb dialogues only ✌️
0
gak ngerti juga kenapa w mau nonton ini. simply mau nostalgia sama film horor rilisan tahun 2000-an yang nontonnya gak perlu serius-serius banget, tapi di netflix malah duluan nemu film ini, jadi males nyari-nyari lagi. tapi yaudala, at least gak se-membosankan Orgy of the Dead. 🤷♀️
0
what did i just watch…….. contoh nyata bahkan setelah meninggal perempuan tetep diobjektifikasi dan diseksualisasi ARGH misogynistic b-move with no entertaining part AT ALL. it was (not so) just fine up to the third dancer, but after that this movie lost what it seems to be its spark by being repetitive!! it was so hard to watch and finish i have to pause many times. the 0.5 point was for the subtle lesbianism. that princess of darkness so obsessed with the female MC she started disobeying that old filthy dracula. and that point was also for the women dancers. i hope y’all paid well 😔😭
0
this is so Rasyiqa, yet at the same time feels quite different. if that makes sense. not complaining, tho. can’t wait for the full album. <3
0
instantly became my second most played song of the month, and it was just released on the last week of April. its rank speaks itself.
0
awalnya kirain ini lagu masih satu vibe sama MIMBAR, tipe-tipe lagu dark gitu, tapi pas dengerin kayak rada kaget karena somehow ini lagu beatnya semangat dan ceria banget, kayak, there’s something in the instrument yang biasanya dipake emang untuk lagu-lagu bahagia? tapi pas baca liriknya LEBIH KAGET LAGI kenapa lagunya depresif banget padahal instrumennya beneran kayak ngingetin ke lagu cinta-cintaan ala Patternist atau The True Blue 😭 the overall song justru ninggalin kesan kayak, semisal Summerlane kolab sama rebelsuns., nah di kepala w hasilnya bakal kayak lagu ini 😭 tapi ini intronya gila deh……. pertama kali denger takjub banget sama perpaduan dan aransemen instrumennya 🤯🤯🤯 love it!
0
kemarin accidentally discovered this masterpiece dari radio playlist-nya What U Need (that radio playlist is soooo good no skip at all!) terus kepo sama discography-nya Lemon City. pas liat profilnya, ternyata mereka kayak duo produser gitu. mereka buat lagunya terus nyari vokalis yang suaranya paling cocok sama lagu yang mau mereka produksi (if i’m not mistaken) makanya tiap lagu vokalisnya bisa beda-beda. so far udah dengerin cukup banyak discography mereka dan GAK ADA YANG FAIL ARGH GIMANA INI BAGUS SEMUA 😭😭😭 might dig deeper into their discography dan dengerin semua lagu mereka REAL SOON. instantly became a HUGE FAN. please give them a listen, you can start from this one song titled Hold me Kiss me Love me 💓
0
bingung gak sih, biasanya order matcha latte pasti langsung matcha + susu gitu kan, matcha di-serve kayak latte. baru kali ini kayaknya order matcha latte ditanya dulu, pake kopi atau enggak… terus pas nanya ke kasirnya, matcha latte ternyata matcha + kopi + susu… kalau matcha “biasa” namanya original matcha… PEAK CONFUSED MOMENT ada beberapa detik nge-hang depan kasir tapi langsung ngeiyain untuk pake kopi (karena basically w emang suka matcha espresso sih, good combination aja imo kalau gak mau kopsus dan gak ada coffee mocktail atau coffee tonic). rasanya enak sih, bukan yang spesial banget tapi masih sangat enjoyable. matchanya lebih dominan dari kopinya, kopinya tuh subtle bangeeeet, cuma kerasa pas awal neguk aja. nah tapi matchanya gak kayak rumput, mungkin ini jenis matcha yang base-nya udah manis gitu kali ya? tapi ini gak kemanisan juga sih, justru kayak matcha latte (matcha + susu) yang super balanced aja? after taste matchanya yang lumayan kuat. sama ada greasy tekstur ala matcha gitu, tapi bukan yang ganggu banget. kelebihan lainnya, rasanya gak off bahkan setelah es batunya mencair? gila banget deh konsistensi rasanya tetep oke gak yang kayak MINUM AIR PUTIH dikasih rasa gitu. price wise, 27k untuk kualitas demikian ya lumayan worth, la.
0
umm… w semakin menyadari kesalahan dari kebanyakan festival makanan (di Jogja, at least) itu apa: the choice of menus/tenants don’t really stick to the festival theme. pekan budaya tionghoa, tapi isinya TAHU GEJROT, NASI BIRYANI, CENIL 😭 itu cuma sebagian aja, not to mention also bunch of makanan kekinian yang gak related to the theme. it’s quite sad, actually, karena what i’d expected from the event ya nemu chinese foods yang jarang/susah ditemuin di tempat lain–di luar event ini. makan tahu gejrot mah deket tempat w juga ada 😭 dan ini gak cuma kejadian di event ini aja sih. beberapa event makanan lain (di Jogja) juga menunjukkan masalah yang sama. belum lagi area jalannya juga lumayan sempit, terutama karena posisi eventnya di sepanjang jalan yang gak gede-gede banget, ditambah pula sisi kanan-kiri dipake untuk tenant. sedangkan, alur jalan pengunjung itu dua arah semua, jadilah lumayan empet-empetan. belum lagi ada tenant yang antreannya panjang banget, sampe bikin satu jalur sendiri di jalan yang udah sempit. 😭 tapi some of the foods are good 👍 bahkan ada yang ENAKKKKK BGT juga 🤤 beberapa b aja, tapi bukan yang gak enak sampe gak kemakan juga. semuanya masih edible, walaupun gak semuanya worth the price. another great thing, ada semacam ekshibisi gitu. dikasih kertas buat nulis harapan dan digantung di tempat yang udah disediain. ada biografi beberapa tokoh pahlawan beretnis tionghoa juga. dan ada beberapa layanan ramalan. some of those i’m seeing for the first time. ada semacam wayang juga, tapi lakonnya lakon dalam budaya chinese, i think? still worth to visit sih, apalagi kalau demen jajan, terlepas dari tema jajanannya. would be more recommended kalau datengnya bareng temen, 1000% more fun!
0